Uji Coba Pertama: Tidak Lulus

Rasanya bangga menjadi warga negara yang taat hukum, saat menjalani proses pembuatan surat izin mengemudi (SIM) A meski harus mengulang.

Pagi ini (05/07/2014) pukul 7 pagi, kami berangkat ke Satpas Polda Metro Jaya Jl. Daan Mogot, Jakarta Barat, untuk membuat SIM A. Saya bersama rekan kerja bapak, dan seorang putrinya yang ingin membuat SIM C.

Satpas Polda Metro Jaya

Katanya, membuat SIM pakai “bantuan” saja. Banyak yang menyarankanku demikian. Lebih cepat, katanya. Tidak perlu mengulang-ulang ujian, katanya. Kalau mengulang-ulang bayarannya mahal, katanya.

Katanya-katanya tersebut memang sangat menggoda. Namun meski amat tergoda, aku ingin menjalani proses sesuai aturan yang berlaku.

Jadilah pagi itu kami sampai di Daan Mogot dan langsung melakukan cek kesehatan. Untuk cek kesehatan, perlu membeli formulir seharga Rp.25.000. Cek kesehatannya cukup “unik”. Kami hanya diperiksa kondisi matanya, dengan membaca tulisan kecil yang ditampilkan petugas. Tau-tau, laporan kesehatan kami sudah keluar.

Kemudian kami membeli formulir RP.120.000 (untuk SIM A) di Bank BRI yang ada di dalam gedung, kemudian membayar asuransi sebesar Rp.25.000. Lalu kami meminta formulir dan mengisinya.  Tidak mahal, jika dibandingkan membayar “bantuan” yang bisa mencapai Rp.700-an ribu.

Selepas mengisi formulir, kami ke lantai 2 untuk mengikuti pencerahan. Karena terlambat, aku tak sempat tahu isi pencerahan tersebut. Hanya tahu bahwa akan ada ujian teori yang menggunakan komputer dan manual. Maksudnya manual adalah mengisi di kertas menggunakan pensil 2B.

Setelah tidak mendapat giliran ujian pertama, karena jumlah peserta lebih dari 100-an, aku akhirnya ikut ujian menggunakan komputer.

Total soal berjumlah 30. Batas waktu pengerjaan 15 menit. Setelah mengerjakan sekitar 8 soal, aku baru sadar bahwa soal yang kukerjakan adalah soal untuk pembuatan SIM motor. Padahal di awal aku sudah memilih untuk SIM mobil.

Setelah lapor ke pengawas, dan diomeli sedikit, aku pindah ke komputer sebelah. Pengerjaannya tidak menggunakan tetikus, melainkan memilih 1 atau 2 atau 3 lalu menekan enter pada keyboard kecil. Jika selesai mengerjakan, nilai dan kelulusan bisa langsung diketahui. Aku mendapat skor 15 dan tidak lulus, karena tidak mencapai skor minimal 18.

Ketika kuingat soal-soalnya, sebetulnya bisa dikerjakan, jika sebelumnya sudah belajar. Beberapa menit sebelum ujian, aku sempat membaca UU No 22 tahun 2009 serta mencari arti rambu-rambu lalu lintas. Dan beberapa soal memang keluar dari UU dan rambu-rambu itu.

Setelah selesai ujian, kami menunggu pengumuman kelulusan dan pengembalian kartu registrasi. Kartu ini akan berguna untuk mengulang ujian. Aku akhirnya bisa mengulang pada tanggal 19 Juli, atau setelahnya.

Sambil menunggu, seorang yang duduk di sampingku bercerita. Ia sudah 3 kali ujian untuk SIM motor, tapi tak pernah lulus. Ia juga pernah dimarahi polisi karena tidak memiliki SIM. Alasan mas ini, “ini udah 3 kali ujian tapi gak lulus juga!” Dan pak polisi pun melepaskannya dengan kesal. Hari ini adalah hari keberuntungannya, sepertinya, karena ia akhirnya diluluskan meski skornya mengindikasikan tidak. Dia pun beranjak dengan senang.

Namaku akhirnya dipanggil, dan kartu untuk ujian ulang sudah di tangan. Ketika kembali, kami bisa langsung saja ke ruang pencerahan dan ikut ujian lagi.

Akhirnya, meskipun tidak lulus, bangga juga rasanya mengikuti aturan. Acungan jempol juga perlu diberikan ke tempat ini. Biaya tidak mahal kok. Total uang yang kukeluarkan hanya Rp.170.000, plus 3 ribu untuk membeli pensil 2B. Mereka juga menyediakan beberapa contoh soal, dan juga memberitahukan bahan belajar untuk ujian. Kalau aku belajar lebih giat, mungkin bisa lulus ujian teori. Semoga lain kali aku bisa melakukannya, sehingga bisa lulus ujian teori dan mendapat SIM.

Tautan yang bisa membantu proses pembuatan SIM:

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *