Uji Coba Kedua: Sejuta Rupiah Harganya

Setelah tidak lulus uji teori untuk membuat SIM A di percobaan pertama, Sabtu 19 Juli aku mencoba untuk kedua kalinya. Pada hari itu aku tahu bahwa untuk membuat SIM lewat “jalur khusus”, harganya satu juta rupiah.

Pukul 6 pagi aku, om dan keponakan, berangkat menuju Satpas di Daan Mogot. Pagi itu jalanan sangat lancar, sehingga dalam 60-an menit kami sudah tiba di sana. Setelah kuberitahukan proses awalnya, om dan keponakanku berpisah denganku. Mereka mengurus tes kesehatan dulu, sedangkan aku langsung antre untuk ujian teori. Sehari sebelumnya, aku membaca beberapa bahan yang disarankan, seperti Perkap No. 9 tahun 2012 tentang Surat izin Mengemudi, dan rambu-rambu lalu lintas.

Begitu pintu dibuka, sekitar pukul 8 lewat, aku dan peserta lain beranjak menuju ruang pencerahan. Aku beruntung bisa dapat duduk di kursi terdepan, berharap bisa ujian di ruang komputer lebih cepat.

Harapanku sia-sia saja. Ternyata petugas di ruang itu langsung membagikan lembar jawaban. Aku, seorang mbak dan mas yang duduk di dekatku, yang ternyata juga mengincar ujian online, kaget. Kami kira akan di-briefing dulu, baru kemudian diminta memilih ujian tertulis atau online. Ya sudah, aku ujian tertulis.

Lima belas menit berlalu, lembar jawaban kukumpulkan. Aku keluar dengan optimis. Selanjutnya aku menunggu di loket 5, supaya tahu lulus atau tidak.

Dua puluhan menit berlalu, akhirnya namaku dipanggil. Dan…. Aku tidak lulus lagi. Skor 15 aku dapatkan kembali, sama seperti percobaan pertama. Kurang 3 lagi supaya lulus.

Hasil ujian SIM

“Rasanya bisa mengerjakan, tapi kok hasilnya sama saja,” aku jadi curiga dengan proses penilaiannya. Tapi ya sudahlah. Artinya, aku tanggal 2 Agustus akan kembali ujian lagi.

Aku pun segera beranjak mencari keponakan yang ujian SIM C. Sambil celingukan, mbak dan mas yang tadi ujian di dekatku, menghampiri. Keduanya ternyata sama tidak lulusnya. Si mbak, yang tinggal di Depok, berkata, “katanya ada yang bisa bantu, di daerah sini.”

Karena penasaran, aku ikut saja.

Mbak itu akhirnya dipertemukan dengan seorang pria lainnya. Mungkin sekitar 35-an tahun usianya. Mbak itu menyerahkan KTP dan kartu peserta ujian kepadanya.

Setelah menunggu lebih dari sejam, pria itu kembali. “Satu juta. Langsung foto,” sambil menunjuk ruang identifikasi dan foto khusus wanita, yang kebetulan ada di depan kami. Si mbak merengut. Mahal sekali katanya.

“Lima ratus lah.”

Gak bisa bu. Tujuh ratus lah, paling rendah. Masa saya dagang malah tekor?

Setelah negosiasi alot, si pria mengeluarkan ponsel dan berniat menghubungi “komandan di sini”. Ia lalu beranjak pergi.

Seperginya si pria, kami membicarakan harga tersebut. Si mbak memang pernah ditawari orang di luar Satpas. Ia ditawari 750 ribu rupiah.

“Kira-kira memang segitu harganya ya,” kami berkesimpulan sama. Tapi si mbak tetap tak rela kalau harus merogoh kocek sampai satu juta.

Karena sudah jam 11-an, aku pun memutuskan pergi, tanpa tahu kelanjutan negosiasinya. Si mas, dia cerita bahwa akan kembali saja tanggal 9 Agustus. Ia ingin memenuhi prosedur pembuatan SIM ini. Apalagi setelah kuceritakan tentang seorang peserta yang diluluskan setelah 3 kali gagal ujian teori. Sedangkan si mbak, katanya kalau bisa dapat 500 ribu rupiah, dia akan ambil jasa itu.

Ternyata masih ada juga ya, praktik jalur khusus itu, meskipun sembunyi-sembunyi.

4 thoughts on “Uji Coba Kedua: Sejuta Rupiah Harganya

  1. Masih ada atuh, Mas, praktik2 begitu mah… Di sini mah juga banyak banget. Tapi, kayaknya sih lebih murah, gak semahal itu.

  2. Ini persis pengalaman saya hari ini Sabtu, 13 Juni 2015. Ini uji coba kedua. Sudah belajar tapi kok tetap tidak lulus. Sedangkan saya lihat banyak calo yang langsung ke lantai 2 loket Data Entry, langsung pada lulus. Bawaan calo nggak perlu nunggu pengumuman malah, mereka langsung ke ujian praktek. Setan amat polisi dan calo ini, menjijikan, najis. Geram sekali. Polisi ini secara kolektif sudah sakit, sakit jiwa dan nuraninya.

    • saya jg sudah belajar, namun tetap saja gagal. entah jawaban yg benar itu yang seperti apa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *