Ulasan: Cek Toko Sebelah(?) 

Setelah berhasil menonton Rogue One saat usia Francis menjelang 2 bulan, malam minggu kemarin aku dan ibu menonton film lokal “Cek Toko Sebelah”. Sudah lama sekali aku tidak menonton film dalam negeri. Berbekal beberapa komentar bagus dari teman di media sosial, kami berangkat menonton. Ternyata hasilnya tidak mengecewakan.

Seperti strategi sebelumnya, Francis kami titipkan ke oma opanya setelah disusui ibu. Berhasil juga, sekitar 2 jam tidur; atau setidaknya main-main tanpa minta disusui.

Sejujurnya sudah lama sekali aku tidak menonton film dalam negeri. Aku juga tidak berhasil mengingat kenangan menonton film lokal di bioskop.

gambar dari https://pbs.twimg.com/profile_images/791882476834566144/zRZm0LAG.jpg

Keinginan nonton film garapan Ernest Prakasa ini muncul setelah membaca komentar beberapa teman di media sosial. Semuanya memberikan opini positif terhadap film ini. Jadilah kami menonton dengan harapan, namun minim; takut kecewa. Hihihi.

Namun sayangnya kami tidak kecewa. Justru kami puas sekali.

Film ini berkisah tentang keluarga etnis Tiongkok, dimana ayahnya adalah pemilik toko, anaknya ada yang menjadi fotografer dan ada yang menjadi pekerja kantoran dengan karir menjulang.

Masalah utama muncul saat sang ayah sudah menurun kesehatannya dan kesulitan mengurus toko. Siapa yang akan menggantikannya? Ditambah dengan rongrongan pengembang properti yang agresif ingin membeli lahan toko itu.

Film ini banyak dibintangi oleh stand up comedian. Jadi siap-siaplah untuk tergelak dengan permainan humor lisan a la komika. Ada yang bicaranya medok, ada yang sulit dipahami, ada yang selalu berjudi, dan ada pula lelaki feminin. Bahkan ada salah satu anak presiden Jokowi. Beberapa adegan ditiadakan pun, tidak akan mengganggu film. Tapi tetap saja lucu.

Meski banyak lelucon, menurutku film ini adalah film drama keluarga, lengkap dengan konflik, dan emosi positif serta negatif. Beberapa adegan benar-benar bisa membuat marah ataupun terharu. Aku pun ikut sebal dengan tokoh Natalie. “Udah, putusin aja kalau gitu terus kelakuannya!” Tapi beberapa adegan mengharukan, sepertinya bisa lebih dramatis lagi, dengan tambahan air mata atau tambahan suasana hening atau penggantian lagu latar yang lebih pas dan kuat nuansa emosinya.

Setelah kurang lebih 1.5 jam menyelesaikan film, aku baru memikirkan judul film. Kesan pertama membaca judulnya adalah “ini film tentang persaingan 2 toko”. Namun ternyata bukan. Di dalam film memang toko Afuk; tokoh ayah, bersebelahan dengan toko Pak Nandar. Beberapa adegan menunjukkan memang ada persaingan di antara kedua toko. Keduanya juga tersirat berbeda latar belakang etnis dan agama. Namun persaingan tersebut tak kental terlihat.

Mungkin judul tersebut dipilih untuk menarik minat calon penonton saja, karena merupakan frase yang cukup dikenal dalam urusan jual beli. Atau ada judul lain yang lebih pas? Misal, Kisah Pilu dan Lucu Pemilik Toko? Atau Koh Afuk dan Gerombolan Penjaga Toko? Atau Berebut Toko tapi Akhirnya Baikan? Atau apa lah.

Meski judul dan suasana emosi film bisa lebih baik, secara umum film ini sangat memuaskan. Sudah lama tidak tertawa bersama ketika menonton film. Angkat topi untuk Ernest dan kawan-kawan! Kalian memang pantas menyandang rating 8.3 yang didapat di IMDb.

Bagaimana pendapat kalian yang sudah menonton? 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *